Upaya penguatan literasi di tengah derasnya arus digital terus menemukan bentuk-bentuk inovatif yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Salah satunya ditunjukkan oleh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Atiqa Sabardila, M.Hum., yang berhasil meraih pendanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju melalui gagasan penguatan konten jurnalistik karosel/carousel bermuatan kearifan Nusantara sebagai media literasi sekolah. Konten karosel adalah format postingan interaktif di media sosial (seperti Instagram, LinkedIn, TikTok) yang menampilkan beberapa gambar atau video dalam satu unggahan, bisa digeser (swipe), berfungsi untuk menceritakan kisah (storytelling) atau memberikan informasi bertahap secara visual, sehingga meningkatkan interaksi audiens dengan menyajikan konten edukatif atau naratif yang menarik seperti “sebelum-sesudah” atau tutorial step-by-step, berbeda dari postingan statis satu gambar.
Riset yang diusung dengan judul “Penguatan Konten Jurnalistik Karosel Bermuatan Kearifan Nusantara sebagai Media Literasi Sekolah” ini berangkat dari keprihatinan sekaligus peluang atas perubahan pola konsumsi informasi di kalangan pelajar. Media sosial, khususnya konten karosel, telah menjadi ruang baru pembentukan pengetahuan, sikap, dan cara pandang generasi muda. Namun, ruang tersebut kerap dipenuhi informasi instan, minim nilai reflektif, bahkan rawan distorsi makna. Di titik inilah, jurnalistik karosel diposisikan sebagai medium alternatif yang edukatif, kritis, dan berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.
Konten jurnalistik karosel tidak sekadar menyajikan berita secara visual, tetapi juga mengintegrasikan prinsip jurnalistik, bahasa yang komunikatif, serta narasi kebudayaan yang kontekstual. Muatan kearifan Nusantara menjadi fondasi penting agar literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, melainkan berkembang menjadi literasi budaya, literasi kritis, dan literasi karakter. Sekolah, dalam hal ini, tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga produsen wacana yang mendidik dan memberdayakan.
Pendanaan riset ini sekaligus menegaskan peran strategis dosen PBSI dalam merespons tantangan zaman. Keilmuan bahasa dan sastra tidak lagi bergerak dalam ruang teks konvensional, tetapi mengikuti ekosistem digital secara transformatif. Inovasi yang digagas Dr. Atiqa Sabardila menunjukkan bahwa kajian bahasa, jurnalistik, dan budaya dapat bersinergi untuk menghadirkan model literasi yang adaptif tanpa kehilangan jati diri kebangsaan. Lebih jauh, program ini sejalan dengan semangat Indonesia Maju yang menempatkan riset dan inovasi sebagai pilar pembangunan sumber daya manusia. Penguatan literasi berbasis kearifan lokal menjadi investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang cakap bermedia, kritis terhadap informasi, serta memiliki kesadaran budaya yang kuat di tengah globalisasi.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian personal peneliti, tetapi juga refleksi komitmen FKIP UMS dalam mendorong riset yang berdampak langsung pada dunia pendidikan dan masyarakat. Melalui penguatan konten jurnalistik karosel bermuatan kearifan Nusantara, literasi sekolah diharapkan tumbuh lebih kontekstual, humanis, dan berakar pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.