
Surakarta – Suasana khusyuk menyelimuti kegiatan Qiyamul Lail dan Doa Bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ketika Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UMS, Dr. Miftakhul Huda, M.Pd., menyampaikan tausiyah bertajuk “Menjaga Bahasa, Menjaga Hati: Kata Menjadi Cermin Keimanan.” Tausiyah tersebut mengajak sivitas akademika untuk menjadikan bahasa sebagai cerminan akhlak, keimanan, sekaligus sarana membangun peradaban yang bermartabat.
Dalam pemaparannya, Dr. Miftakhul Huda menegaskan bahwa kemampuan berbahasa merupakan anugerah yang memuliakan manusia. Namun, kemuliaan tersebut hanya akan bernilai apabila disertai kemampuan menjaga lisan dan memilih perkataan yang baik. Ia mengutip firman Allah Swt. dalam QS. Al-Isra’ ayat 53 yang memerintahkan umat Islam agar mengucapkan perkataan yang paling baik sebagai bentuk ikhtiar menjaga persaudaraan dan menghindari perselisihan.
Menurutnya, Islam tidak hanya mengajarkan seseorang untuk berkata benar, tetapi juga mengarahkan agar memilih perkataan yang paling baik. Sebab, suatu ucapan bisa saja benar, tetapi belum tentu membawa kemaslahatan bagi orang lain. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut mempertimbangkan dampak setiap kata sebelum disampaikan.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan penggunaan bahasa pada era digital. Perkembangan media sosial telah mempercepat arus komunikasi, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan, seperti ujaran kebencian, penyebaran hoaks, perundungan digital, hingga kecenderungan menghakimi orang lain tanpa dialog. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kedewasaan dalam berbahasa.
Dr. Miftakhul Huda menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang jelas mengenai etika berbahasa. Setiap muslim hendaknya memastikan informasi yang disampaikan benar, memilih kata yang santun, menyampaikan sesuatu yang bermanfaat, memperhatikan waktu dan situasi dalam berbicara, serta menjauhi kebohongan, ghibah, fitnah, dan berbagai bentuk ujaran yang merusak kehormatan sesama.
Ia juga mengingatkan bahwa bahasa memiliki peran besar dalam membentuk peradaban. Pilihan kata yang baik mampu membangun semangat, menumbuhkan empati, mempererat persaudaraan, serta menciptakan kedamaian. Sebaliknya, bahasa yang kasar dan penuh kebencian dapat memicu konflik serta meruntuhkan kepercayaan antarmanusia.
Dalam perspektif Islam, lanjutnya, bahasa harus selalu berorientasi pada kemaslahatan. Setiap ucapan semestinya mengandung hikmah, menjaga martabat manusia, menghargai perbedaan, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan bersama. Bahasa juga merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt., sebagaimana ditegaskan dalam QS. Qaf ayat 18 bahwa setiap ucapan manusia senantiasa dicatat oleh malaikat.
Selain sebagai amanah, bahasa juga berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antarmanusia, memperkuat identitas bangsa, sekaligus menjadi amal yang terus mengalir manfaatnya. Ucapan, tulisan, maupun karya yang mengajak kepada kebaikan akan menjadi investasi amal yang bernilai ibadah dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
Menutup tausiyahnya, Dr. Miftakhul Huda mengajak seluruh peserta Qiyamul Lail untuk menjadikan momentum ibadah tersebut sebagai sarana memperbaiki kualitas diri, termasuk dalam menjaga lisan dan komunikasi sehari-hari. Ia menegaskan bahwa setiap kata bukan hanya didengar manusia, tetapi juga menjadi catatan amal di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu, menjaga bahasa sejatinya merupakan bagian dari menjaga hati, memperkuat keimanan, dan membangun akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat maupun di ruang digital.