Di tengah derasnya arus digital yang sering kali membuat masyarakat lebih akrab dengan budaya menonton daripada membaca, kehadiran sosok yang mampu menghasilkan ribuan karya literasi menjadi fenomena yang langka sekaligus menginspirasi. Fenomena itulah yang menjadi sorotan utama dalam kegiatan Kajian Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (Kabastraya) #5 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) secara daring melalui Zoom Meeting.
Kabastraya #5 merupakan sekuel lanjutan dari rangkaian kajian akademik yang selama ini konsisten menghadirkan pakar dan praktisi kompeten dalam bidang bahasa, sastra, dan pembelajarannya. Pada edisi kelima ini, PBSI UMS menghadirkan sosok yang tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, tetapi juga pegiat literasi dan kartunis berbasis kearifan lokal Banyumas, yakni Nassirun Wijaya atau yang akrab dikenal sebagai Nassirun PurwoKartun.
Kehadiran Nassirun Wijaya dalam forum akademik tersebut memberikan perspektif yang menarik mengenai pentingnya menjaga identitas budaya melalui karya-karya literasi. Di tengah dominasi budaya global yang semakin masif, ia memilih jalan berbeda dengan menaruh perhatian besar pada sejarah, budaya, dan kearifan lokal Banyumas. Melalui berbagai karya yang ditulisnya, masyarakat diajak untuk kembali mengenal akar budaya sekaligus memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum. tersebut juga dihadiri oleh sejumlah dosen senior PBSI FKIP UMS, antara lain Dr. Main Sufanti, M.Hum.; Drs. Andi Haris Prabawa, M.Hum.; dan Dipa Nugraha, Ph.D. Turut hadir pula jajaran pimpinan program studi, yakni Yunus Sulistyono, Ph.D. selaku Ketua Program Studi, Gallant Karunia Assidik, S.Pd., M.Pd. selaku Sekretaris Program Studi, Drs. Zainal Arifin, M.Hum. selaku Unit Penjaminan Mutu Program Studi, serta Dr. Main Sufanti, M.Hum. selaku Kepala Laboratorium PBSI.

Dalam sambutannya, Yunus Sulistyono mengungkapkan kekagumannya terhadap produktivitas narasumber.
Menurutnya, tidak banyak penulis yang mampu secara konsisten menghasilkan karya dalam jumlah besar dengan fokus yang kuat pada satu wilayah budaya tertentu. Nassirun Wijaya diketahui telah menghasilkan sekitar 1001 karya yang berkaitan dengan babad dan khazanah Banyumas. Jumlah tersebut bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata dedikasi panjang dalam merawat memori kolektif masyarakat melalui tulisan. ujar Yunus Sulistyono
Lebih dari sekadar produktif, sosok Nassirun menunjukkan bahwa literasi sesungguhnya lahir dari ketekunan membaca, mengamati, dan mencintai lingkungan budaya tempat seseorang bertumbuh. Di era ketika banyak orang berlomba-lomba menciptakan konten instan demi popularitas sesaat, Nassirun menghadirkan contoh bahwa karya yang berakar pada tradisi lokal justru memiliki daya tahan yang panjang dan nilai historis yang tinggi.
Kekaguman serupa juga disampaikan oleh Prof. Ali Imron Al-Ma’ruf.
Dalam pandangannya, produktivitas Nassirun Wijaya merupakan sesuatu yang luar biasa dan sulit ditemukan tandingannya. Sebagai sastrawan, pegiat literasi, sekaligus kartunis lokal Banyumas, Nassirun dinilai memiliki kapasitas yang sangat istimewa. Bahkan, menurut Prof. Ali Imron, belum banyak sastrawan kelas nasional maupun internasional yang mampu menunjukkan produktivitas setinggi itu. Kemampuan membaca dalam jumlah sangat besar setiap tahunnya menjadi fondasi yang menopang lahirnya ribuan karya tersebut. ujar Prof. Ali Imron.
Pandangan tersebut sesungguhnya mengingatkan kita bahwa budaya literasi tidak dapat dibangun secara instan. Produktivitas menulis merupakan hasil dari kedisiplinan membaca yang dilakukan secara terus-menerus. Hubungan antara membaca dan menulis adalah hubungan yang tidak terpisahkan. Semakin luas wawasan seseorang melalui bacaan, semakin besar pula peluangnya menghasilkan karya yang bernilai.
Kabastraya #5 akhirnya tidak hanya menjadi forum akademik biasa, tetapi juga ruang refleksi bagi civitas akademika dan masyarakat luas tentang pentingnya membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Sosok Nassirun Wijaya membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya lokal dapat melahirkan karya-karya besar yang memberi manfaat bagi generasi mendatang. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat, keteladanan seperti inilah yang perlu terus disuarakan: bahwa membaca adalah investasi intelektual, menulis adalah bentuk pengabdian, dan merawat kearifan lokal merupakan tanggung jawab bersama untuk menjaga jati diri bangsa.