
Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi muda saat ini menghadapi berbagai tantangan psikologis yang tidak sederhana. Tekanan akademik, tuntutan sosial, ketidakpastian masa depan, hingga paparan informasi yang tak terbatas menjadikan kecemasan sebagai salah satu persoalan yang banyak dialami mahasiswa Generasi Z. Menariknya, di tengah situasi tersebut, teknologi yang selama ini dianggap sebagai pemicu berbagai persoalan justru mulai dilihat sebagai bagian dari solusi.
Kabar membanggakan datang dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) PBSI berhasil meraih pendanaan PKM Tahun 2026 melalui proposal inovatif berjudul D-Chat (Digital Curhat & Healing Assistance Tool): Efektivitas Curhat dengan ChatGPT dalam Mengelola Kecemasan Mahasiswa Gen-Z: Psychology of Language. Proposal tersebut dibimbing oleh Yunus Sulistyono, M.A., Ph.D., dan mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa masa kini.
Gagasan D-Chat lahir dari fenomena meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan sehari-hari. ChatGPT, sebagai salah satu teknologi AI yang populer, tidak hanya dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan akademik, tetapi juga mulai digunakan sebagai teman berdiskusi, tempat berbagi cerita, bahkan ruang untuk mengekspresikan perasaan. Banyak mahasiswa merasa lebih nyaman mengungkapkan kecemasan, kebingungan, atau tekanan yang mereka alami kepada sistem AI karena tidak adanya rasa takut dihakimi maupun tekanan sosial yang sering muncul dalam interaksi antarmanusia.
Fenomena ini tentu menarik untuk dikaji secara ilmiah. Apakah curhat kepada AI benar-benar dapat membantu mengurangi kecemasan? Bagaimana bahasa yang digunakan dalam interaksi tersebut memengaruhi kondisi psikologis pengguna? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi landasan penelitian D-Chat. Melalui perspektif Psychology of Language, penelitian ini berupaya memahami hubungan antara penggunaan bahasa, proses komunikasi digital, dan kesehatan mental mahasiswa.
Di satu sisi, kehadiran AI membuka peluang baru dalam menyediakan dukungan emosional yang mudah diakses kapan saja dan di mana saja. Mahasiswa yang enggan berkonsultasi secara langsung dapat memperoleh ruang refleksi awal melalui percakapan dengan AI. Respons yang cepat, netral, dan tidak menghakimi menjadi alasan mengapa teknologi ini semakin diminati. Namun, di sisi lain, penggunaan AI juga perlu dipahami secara bijaksana. AI bukanlah pengganti psikolog, konselor, maupun dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penelitian seperti D-Chat menjadi penting untuk memberikan pemahaman yang berbasis data dan bukti ilmiah.
Keberhasilan memperoleh pendanaan PKM menunjukkan bahwa mahasiswa PBSI tidak hanya mampu berkarya dalam bidang bahasa dan sastra, tetapi juga mampu merespons perkembangan teknologi serta persoalan sosial kontemporer. Kolaborasi antara kajian bahasa, psikologi, dan kecerdasan buatan menjadi contoh nyata bahwa ilmu humaniora memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan zaman.
Lebih jauh lagi, keberhasilan ini mencerminkan semangat inovasi yang terus tumbuh di lingkungan FKIP UMS. Di era ketika kesehatan mental menjadi isu global, lahirnya penelitian yang berupaya mencari pendekatan baru dalam membantu mahasiswa mengelola kecemasan merupakan langkah yang patut diapresiasi. D-Chat tidak sekadar menawarkan pemanfaatan teknologi, tetapi juga mengajak kita untuk memahami bagaimana bahasa dapat menjadi sarana penyembuhan, refleksi diri, dan penguatan kesehatan mental.
Pada akhirnya, prestasi Tim PKM PBSI FKIP UMS ini menjadi bukti bahwa kreativitas mahasiswa dapat melahirkan gagasan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Semoga penelitian D-Chat dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai inovasi lain yang menghubungkan teknologi dengan kebutuhan kemanusiaan.