Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMS

Kewibawaan Bahasa dan Bangsa

BULAN suci Ramadan 1447 Hijriah, dunia dikagetkan oleh serangan AS dan Israel ke Iran yang kemudian menyalakan api perang. Padahal tatanan kehidupan dunia membutuhkan suasana damai, bukan konflik bersenjata yang meluluhlantakkan sarana dan prasarana kehidupan manusia. Hidup damai di dunia itulah yang semestinya diciptakan.

Bagaimana peran bahasa dalam turut menyelesaikan konflik tersebut? Komunikasi dalam situasi seperti ini, tentu sangat dibutuhkan agar ketegangan tidak berlarut-larut.

Butuh sarana komunikasi antarbangsa, supaya saling memahami bahwa hidup bertetangga itu semestinya harmonis dan tidak saling menghancurkan.

Komunikasi antarbangsa yang berseteru, butuh diperantarai yaitu dengan perundingan agar perang dihentikan. Masing-masing harus memahami bahwa menjaga kedaulatan sebagai bangsa merupakan etika pergaulan bersama di dunia.

Perang dipastikan merugikan semua pihak. Jadi komunikasi intensif antarbangsa semestinya bisa dibangun, antara lain dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bangsa Indonesia sudah terbukti mampu menjaga persatuan bangsa berkat wibawa bahasa.

Kenyataan seperti itu bisa saja dikembangkan dalam arena diplomasi internasional untuk menegakkan perdamaian, demi kedamaian hidup bersama. Pihak yang berseteru meskinya mampu menahan diri untuk tidak menyerang. Kenyataannya, perang sudah meletus dan dampak negatif mulai dirasakan seluruh bangsa.

Kondisi rawan dan krisis keamanan meluas. Maka dengan komunikasi secara baik antarbangsa, situasi tersebut dapat dikendalikan secara lebih baik.

Inisiatif perdamaian dunia bisa dimulai dengan komunikasi antara kedua pihak yang berperang, sehingga lahir kesadaran bahwa hidup bersama menjadi mercusuar untuk mencapai kebahagiaan suatu bangsa. Manakala nafsu perang menjadi api pemicu konflik, maka akan susah menuju lahirnya persatuan dan kesatuan.

Hikmah yang bisa diperoleh bagi dunia pendidikan di Tanah Air, guru bahasa Indonesia memiliki wawasan bahwa wibawa bahasa sebagai alat pemersatu, menjadi begitu penting untuk ditanamkan dalam sanubari siswa.

Pada tingkat atau dampak selanjutnya, guru dapat membangun jati diri sebagai penutur bahasa Indonesia yang mencintai perdamaian, serta menjaga keharmonisan pergaulan internasional. Nilai nasionalisme sebagai wibawa bangsa selanjutnya ditingkatkan dan disebarluaskan menjadi nilai interansionalisme, yaitu menjaga ketertiban dunia.

Rupanya, ada hikmah perang yang muncul dari sisi bahasa, yaitu wibawa negara yang satu diganggu oleh negara lain. Hal tersebut menjadi titik sentral pemikiran bahwa pemahaman tentang perdamaian dalam kehidupan global bertetangga, belum menjadi fokus utama pemikiran pada setiap bangsa.

 

Agus Budi Wahyudi
Dosen Prodi PBSI, MPBI, PBIPD FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta

Berita ini tayang pada Laman: https://solo.suaramerdeka.com/opini/0516837867/kewibawaan-bahasa-dan-bangsa

 

Scroll to Top