Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMS

PBSI Gelar Dialog Prodi (Digpro) Tahun 2026 Bertajuk “Suara Mahasiswa dalam Dialog Program Studi yang Aspiratif Menuju PBSI yang Inovatif Bersama HMP PBSI 2026”

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP UMS kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang terbuka, partisipatif, dan progresif melalui kegiatan Dialog Prodi (Digpro) bertajuk “Suara Mahasiswa dalam Dialog Program Studi yang Aspiratif Menuju PBSI yang Inovatif Bersama HMP PBSI 2026”. Kegiatan ini bukan sekadar forum formal antara mahasiswa dan pimpinan program studi, melainkan ruang dialektika akademik yang memperlihatkan bagaimana sebuah institusi pendidikan tinggi berusaha mendengar, mengevaluasi, dan bertumbuh bersama mahasiswanya.

Digpro dihadiri oleh jajaran pimpinan dan dosen PBSI FKIP UMS, di antaranya Kaprodi PBSI FKIP UMS Yunus Sulistyono, Sekprodi Gallant Karunia Assidik, Unit Penjaminan Mutu Zainal Arifin, Kepala Laboratorium Main Sufanti, serta sejumlah dosen senior dan guru besar seperti Prof. Dr. Markhamah, M.Hum., Dr. Atiqa Sabardila, M.Hum., Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd. dan Drs. Joko Santoso, M.Ag. Kehadiran para akademisi tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi antara mahasiswa dan dosen tidak dibangun hanya dibangun secara hierarkis semata dengan satu arah, tetapi juga melalui relasi intelektual dua arah yang dialogis dan kooperatif.

Dalam dunia pendidikan tinggi, keberanian mahasiswa menyampaikan kritik merupakan indikator sehatnya budaya akademik. Melalui angket yang dibagikan kepada mahasiswa, terungkap bahwa secara umum pelayanan administrasi akademik, pelaksanaan kegiatan prodi, serta sistem pembelajaran di PBSI FKIP UMS telah berjalan baik, sistematis, dan terstruktur. Namun demikian, mahasiswa tetap menyampaikan sejumlah kritik konstruktif, terutama terkait maraknya praktik kecurangan saat ujian semester. Fenomena mencontek melalui catatan kecil maupun gawai menjadi persoalan yang dinilai memerlukan perhatian serius.

Pernyataan yang disampaikan Drs. Joko Santoso, M.Hum. menjadi refleksi penting mengenai krisis kepercayaan diri akademik mahasiswa. Menurutnya, praktik kecurangan bukan kesalahan institusi atau dosen, sebab materi yang diujikan telah diberikan secara maksimal dalam proses perkuliahan. Persoalan utama justru terletak pada mentalitas mahasiswa yang belum percaya terhadap kemampuan berpikirnya sendiri. Pesan tersebut sejatinya menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal memperoleh nilai, tetapi juga membangun integritas dan kejujuran intelektual.

Selain itu, pesan dari Prof. Dr. Markhamah, M.Hum. memperlihatkan pentingnya keberanian mahasiswa untuk aktif dalam ruang kelas. Budaya bertanya, berdiskusi, bahkan menyanggah argumentasi dosen merupakan bagian penting dalam membentuk tradisi akademik yang hidup. Mahasiswa tidak seharusnya takut keliru, sebab proses belajar memang lahir dari keberanian untuk mencoba dan berpikir kritis. Dalam konteks ini, PBSI FKIP UMS tampak ingin membangun atmosfer akademik yang humanis dan inklusif.

Senada dengan itu, Dr. Atiqa Sabardila, M.Hum. menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi intelektualitas mahasiswa. Di tengah derasnya arus digitalisasi, mahasiswa diingatkan agar memanfaatkan gawai tidak hanya untuk hiburan dan media sosial, tetapi juga sebagai sarana menggali ilmu pengetahuan melalui buku digital, jurnal nasional, maupun jurnal internasional. Pesan tersebut menjadi sangat relevan di era sekarang ketika budaya membaca mulai tergerus oleh budaya instan dan konsumsi informasi singkat.

Menariknya, Digpro tahun ini tidak hanya menjadi ruang evaluasi akademik, tetapi juga ajang apresiasi dan regenerasi kepemimpinan mahasiswa melalui pengukuhan Duta Mahasiswa PBSI 2026. Mahasiswa yang terpilih, yakni Titan Sukma Nurserin (Duta Mahasiswa I), Hasan Alvan Rifai (Duta Mahasiswa II), Suci Kurniasari (Duta Literasi0), dan Hamas Panji Prasetyo (Duta Sosial Media) diharapkan mampu menjadi representasi wajah PBSI yang aktif, kreatif, dan inspiratif. Pesan dari Isna Dini Rahmawati, Duta Mahasiswa periode 2025 menegaskan bahwa predikat duta bukan sekadar simbol prestise, tetapi amanah untuk menjaga sikap, perilaku, dan citra program studi serta memberikan capaian akademik yang sebanding dengan predikat duta tersebut.

Pada momentum yang sama, penghargaan dosen favorit mahasiswa PBSI FKIP UMS tahun akademik 2025/2026 diberikan kepada Dr. Laili Etika Rahmawati, M.Pd. berdasarkan hasil voting mahasiswa aktif. Penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak hanya menilai dosen dari aspek akademik semata, tetapi juga dari kemampuan menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, humanis, dan membangun kedekatan emosional dalam proses transfer ilmu.

Secara keseluruhan, Digpro PBSI FKIP UMS 2026 menjadi gambaran nyata bahwa kampus ideal bukanlah kampus yang bebas kritik, melainkan kampus yang mampu mengelola kritik menjadi energi perubahan. Dialog antara mahasiswa dan dosen dalam forum ini memperlihatkan adanya semangat kolektif untuk terus memperbaiki kualitas akademik, membangun budaya literasi, menanamkan integritas, dan memperkuat identitas PBSI sebagai program studi yang inovatif serta responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Di tengah tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, forum seperti Digpro menjadi bukti bahwa suara mahasiswa tetap memiliki posisi penting dalam menentukan arah kemajuan institusi.

Scroll to Top