
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, menulis, menyimak, berbicara, dan berhitung, tetapi juga bagaimana gagasan dirangkai, disampaikan, dan memberi dampak. Dalam konteks pendidikan tinggi, literasi bahkan menjadi fondasi penting bagi mahasiswa untuk membangun nalar kritis sekaligus identitas intelektualnya. Oleh karena itu, upaya menghadirkan ruang-ruang kreatif yang mendorong praktik literasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Kegiatan Workshop Majalah Sinkronika yang diselenggarakan oleh PBSI FKIP UMS hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Workshop ini tidak hanya menjadi ajang pelatihan teknis, tetapi juga ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa menulis adalah proses kreatif yang membutuhkan latihan, ketekunan, dan keberanian menuangkan gagasan. Mahasiswa tidak sekadar diajak memahami teori, tetapi juga didorong untuk mengalami langsung proses produksi karya.
Kehadiran Agus Budi Wahyudi memberikan warna tersendiri dalam kegiatan ini. Dengan pengalaman panjang di dunia kepenulisan, ia mengajak peserta menyelami praktik menulis secara profesional—mulai dari membangun ide, mengembangkan narasi, hingga menjaga konsistensi dalam berkarya. Perspektif ini penting, karena sering kali mahasiswa terjebak pada anggapan bahwa menulis adalah aktivitas yang sulit dan eksklusif. Padahal, menulis justru menjadi keterampilan yang dapat diasah melalui proses yang berkelanjutan.

Di sisi lain, Gallant Karunia Assidik menegaskan bahwa literasi tidak berhenti pada produksi teks, tetapi juga mencakup bagaimana karya tersebut dikemas dan disajikan. Penguatan pada aspek layout dan pengelolaan media publikasi menjadi krusial, terutama di era digital yang menuntut visualisasi menarik dan komunikatif. Dalam hal ini, mahasiswa diajak memahami bahwa majalah bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan produk kreatif yang memadukan estetika, pesan, dan strategi komunikasi.
Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi instrumen strategis dalam pengembangan program studi. Majalah yang disusun mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi, tetapi juga sebagai sarana promosi yang mampu merepresentasikan identitas dan keunggulan program studi kepada publik. Dengan demikian, literasi bergerak dari ruang akademik menuju ruang sosial yang lebih luas.
Pada akhirnya, Workshop Majalah Sinkronika menjadi bukti bahwa budaya literasi dapat dibangun melalui kolaborasi, pendampingan, dan praktik nyata. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan kreativitas mahasiswa, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Harapannya, pengalaman ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan menjadi titik awal bagi lahirnya karya-karya mahasiswa yang produktif, inovatif, dan berdampak. Sebab, dari literasi yang kuat, akan lahir generasi yang mampu berpikir, berkarya, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.